GUS AMI DAN REKONSTRUKSI POLITIK SANTRI.

0
30 views

Oleh : Adlan Daie

Wakil.Sekretaris PWNU Jawa Barat.

H. Abdul Muhaimin.Iskandar (baca: Gus Ami), Ketua Umum PKB, jelas “santri” dalam pengertian kultural Dr. Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya “Tradisi Pesantren”. Gus Ami bukan saja pernah “nyantri” di lingkungan pesantren kultural.NU, bahkan lahir dan tumbuh besar di dalamnya. Panggilan “Gus” lebih dari pantas untuk “Gus Ami”, dari “trah” keluarga besar pendiri dan pengasuh pondok pesantren besar dan berpengaruh Denanyar Jombang Jawa Timur.

Problem nya pengertian “santri” di atas dari sisi elektoral politik “market share” nya kecil dari total populasi pemilih di Indonesia. Maksimal sebesar 18% merujuk pada raihan elektoral partai NU tahun 1955 (Orde Lama) dan pemilu tahun 1971 (Orde Baru). Atau dalam konteks elektoral PKB di Orde Reformasi sebesar 13%. Bahkan pemilih santri secara akumulatif (santri modernis.dan kultural) cenderung menurun dari sebesar 43% di pemilu tahun 1955 tersisa.hanya 31% di pemilu terakhir tahun 2019.

Di sinilah penting nya merekonstruksi ulang pengertian “santri”. Digeser.dari pengertian kultural dan dari konstruksi Clifford Getz dalam bukunya “The Religion Of Java” yang meng kategorisasi populasi pemilih Indonesia dalam tiga varian kelompok : abangan, santri dan priyayi. Dengan kata lain, rekonstruksi pengertian “santri” di atas penting :

Pertama, bahwa penetapan hari santri tanggal 22 Oktober secara resmi oleh negara melalui Keppres no 22 tahun 2015 antara lain diinisiasi secara politik oleh Gus Ami hendaknya dipahami tidak sekedar seremoni tahunan santri dengan pakaian sarung. Lebih dari.itu diperluas makna dan pesan politiknya bahwa santri adalah ‘Setiap orang Islam Indonesia yang mencintai negara dan bangsanya”.

Pengertian “santri” ini mengintegrasikan kelompok “nasionalis” dan kelompok “islam ” dalam kohesi pandangan kebangsaan yg sama secara lahir dan batin. Tidak bersifat dikhotomis yang membelah secara sosial sebagaimana kategorisasi politik selama ini. Santri dalam pengertian ini cenderung ramah dengan kelompok agama agama lain di Indonesia.

Kedua, Gus Ami dalam posisinya sebagai Ketua Umum PKB berlatar belakang “santri” dalam pengertian kultural di atas memiliki kapasitas politik dan modal sosial kultural “lebih” dibanding tokoh politik Islam.lainnya dalam kompetensi mengintegrasikan kelompok nasionalis dan kelompok Islam dalam pengertian “santri” varian baru di atas dalam rangka mengisi makna lebih mendalam “Hari Santri” yang telah resmi ditetapkan negara.

Dalam konstruksi pengertian “santri” itulah posisi politik Gus Ami diletakkan. Seluruh sumber daya instrumental PKB, policy dan pilihan narasi politiknya diarahkan untuk memperkuat dan memperluas “market share” elektoral politiknya dalam kontestasi pilpres 2024 sekaligus untuk memperkokoh wawasan kebangsaan kita secara lahir batin yang akhir akhir ini terpolarisasi secara sosial akibat residu kontestasi politik yang tajam.

Selamat bekerja. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here