CHIAYI, TAIWAN – Keindahan alam pegunungan yang berpadu dengan kekayaan budaya lokal menjadi pengalaman tak terlupakan bagi jurnalis Kreator Jabar, Makali Kumar, saat menjelajahi kawasan Alishan di Kabupaten Chiayi, Taiwan.
Perjalanan ini merupakan bagian dari rangkaian liputan Taiwan Lantern Festival 2026 yang berlangsung pada 1–6 Maret 2026.
Usai kembali ke Indonesia, kenangan akan lanskap hijau Alishan dan interaksi budaya bersama suku Tsou masih membekas kuat dalam catatan perjalanan Makali Kumar, yang juga Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi media Kreator Jabar.

Makali Kumar bersama lima jurnalis nasional lainnya—Agustina Melani (Liputan6.com), Fransisca Nababan (Kompas), Fadhil Zikri (Indonesiaupdate), Paulina Pasaribu (Sudutpandang.id), dan Arkhelaus Wisnu Triyogo (Tempo)—difasilitasi oleh Taipei Economic and Trade Office (TETO) Indonesia untuk melihat langsung potensi pariwisata Taiwan.
Pesona Pegunungan Alishan yang Menenangkan
Kunjungan pada 2–3 Maret 2026 menjadi salah satu momen paling berkesan. Rombongan diajak menuju kawasan Alishan Scenic Area, destinasi pegunungan yang terkenal dengan hutan cemara purba, udara sejuk, serta fenomena “lautan awan” yang memukau.

Perjalanan menuju puncak Alishan semakin istimewa dengan menaiki kereta api Alishan yang legendaris. Jalur rel yang berkelok, menembus hutan lebat dan kabut tipis, menghadirkan suasana dramatis sekaligus menenangkan.
Secara historis, jalur kereta ini merupakan peninggalan era kolonial Jepang yang kini direvitalisasi menjadi ikon wisata. Keberadaannya tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga nilai sejarah yang memperkaya perjalanan.

“Suasana di Alishan benar-benar menghadirkan ketenangan. Perpaduan antara alam, kabut, dan hutan tua menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan,” ungkap Makali Kumar dalam catatan perjalanannya, Senin (17/3/2026).

Menyapa Kearifan Lokal Suku Tsou di Yuyupas
Tak hanya menyuguhkan panorama alam, perjalanan ke Alishan juga membuka ruang interaksi budaya yang autentik. Rombongan jurnalis mengunjungi Yuyupas Cultural Park, pusat pelestarian budaya suku Tsou—salah satu komunitas masyarakat adat Taiwan.

Di tempat ini, para jurnalis disuguhi pertunjukan tarian tradisional yang sarat makna. Gerakan tari, musik, hingga busana yang dikenakan menggambarkan kehidupan masyarakat Tsou yang erat dengan alam dan nilai spiritual.
Melalui pertunjukan tersebut, tersirat pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi.

“Melalui pertunjukan ini, kami ingin memperkenalkan budaya Tsou kepada dunia,” ujar salah satu penampil dalam pertunjukan tersebut.

Interaksi ini menjadi pengalaman berharga bagi rombongan, sekaligus memperlihatkan bagaimana Taiwan memberi ruang bagi masyarakat adat untuk tetap eksis dan berkembang.

Relaksasi di Longyun Farm, Harmoni Alam yang Menyegarkan
Perjalanan di kawasan Alishan ditutup dengan kunjungan ke Longyun Farm, sebuah kawasan agrowisata yang menawarkan suasana tenang khas pegunungan.
Hamparan kebun teh, udara segar, serta panorama alam yang masih alami menjadikan lokasi ini sebagai tempat ideal untuk beristirahat setelah rangkaian perjalanan panjang. Rombongan jurnalis pun mengakhiri hari dengan makan malam dan bermalam di kawasan tersebut.

Pariwisata Harmonis: Modernitas dan Tradisi Berjalan Seiring
Catatan perjalanan ini menegaskan bahwa Taiwan tidak hanya mengandalkan kemajuan kota seperti Taichung, tetapi juga berhasil menjaga keseimbangan antara modernitas, pelestarian budaya, dan konservasi alam.
Dari hutan purba Alishan hingga kearifan lokal suku Tsou, Taiwan menghadirkan pengalaman wisata yang utuh—menggabungkan edukasi, budaya, dan keindahan alam dalam satu perjalanan.

Bagi Makali Kumar, pengalaman ini bukan sekadar liputan, melainkan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah destinasi dapat berkembang tanpa kehilangan jati diri.
“Taiwan menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga tentang cerita, identitas, dan harmoni antara manusia dan alam,” pungkasnya. (*)














