banner 728x250

23 Tahun Yayasan Al Qohhar: Dari Amanat Guru hingga Menjadi Rumah bagi Anak Yatim dan Yatim Piatu

Sawangan  — Selama 23 tahun, Yayasan Al Qohhar terus menjadi bagian dari perjalanan hidup anak-anak yatim dan yatim piatu. Berawal dari sebuah majelis ta’lim, Yayasan Al Qohhar kemudian berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya memberikan santunan, tetapi juga hadir untuk memenuhi berbagai kebutuhan anak-anak yang berada dalam pengasuhannya.

Perjalanan ini bermula sebelum Yayasan Al Qohhar resmi berdiri.

Pada awalnya, Al Qohhar merupakan sebuah majelis ta’lim yang dibina oleh Sosok Guru dari Haji Robert Nitiyudo Wachjo, kegiatan yang dilakukan saat itu masih sederhana dan berfokus pada kegiatan keagamaan. Setelah sang guru meninggal dunia, Haji Robert memilih untuk meneruskan apa yang telah dirintis oleh gurunya, ada amanat yang kemudian menjadi dasar perjalanan Al Qohhar, yaitu mengurus anak yatim dan yatim piatu serta memperhatikan para lansia atau jompo.

Amanat tersebut kemudian diwujudkan dengan mengurus legalitas yayasan hingga akhirnya Yayasan Al Qohhar resmi berdiri pada tanggal 9 Juli tahun 2003. Sejak saat itu, perjalanan Al Qohhar mulai berkembang.

23 Tahun Mendampingi Anak Yatim dan Yatim Piatu

Hingga saat ini, Yayasan Al Qohhar telah mengasuh dan mendampingi sekitar 865 anak yatim dan 387 anak yatim piatu. Amanah tersebut mendorong yayasan untuk terus menghadirkan program berkelanjutan, mulai dari santunan, pendidikan, kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang anak yatim yang bergabung sejak Juli 2024, Anaya Syakira Abimanyu, mengaku bersyukur mendapat perhatian dan dukungan dari yayasan. “Saya sangat bersyukur menjadi anak asuh di bawah Yayasan Al Qohhar, Ayah Robert sangat baik dan benar-benar menjadi sosok ayah bagi kami, Ayah Robert banyak mengajarkan kami hal-hal positif, ia selalu memberikan support untuk kami dalam segala hal, untuk kehidupan sehari-hari, kebutuhan pendukung seperti HP, laptop, sepeda listrik, kasur, bahkan memberikan saya fasilitas les bahasa Inggris di EF” ujarnya.

Ia juga berharap pendampingan tersebut dapat terus berlanjut. “Saya merasa beruntung menjadi anak asuh Yayasan Al Qohhar, saya berharap Yayasan Al Qohhar selalu ada untuk kami, dan Ayah Robert selalu dalam lindungan Allah dan selalu diberikan kesehatan,” tambah Anaya.

Bagi Haji Robert, kebutuhan anak yatim dan yatim piatu tidak berhenti pada santunan. Pendidikan, tempat tinggal, makanan, kesehatan, pakaian, hingga pendampingan sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Karena itu, Yayasan Al Qohhar turut menyediakan fasilitas pendukung bagi anak-anak di rumahnya masing-masing, di mana mereka tetap diasuh oleh kerabat terdekatnya. Mulai dari beasiswa, renovasi rumah, pendampingan masalah di sekolah, kunjungan rutin tim psikolog dan tenaga medis, klinik dokter umum dan dokter gigi, hingga rumah sakit spesialis bagi mereka yang membutuhkan penanganan khusus, termasuk anak-anak yang mengalami jantung bocor, spina bifida, retinal detachment, dan leukemia.

“Dari awal amanatnya memang untuk mengurus anak yatim dan yatim piatu. Jadi bukan hanya soal memberikan santunan. Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan,” ujar Kartono Warigogung, Ketua Yayasan Al Qohhar.

Hadir sebagai Sosok Ayah

Selama 23 tahun perjalanan tersebut, hubungan Haji Robert dengan anak-anak yatim dan yatim piatu di Yayasan Al Qohhar pun semakin dekat. Bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah, kehadiran Haji Robert tidak hanya dirasakan sebagai pemberi bantuan, ia hadir dalam kehidupan mereka sebagai sosok yang memberikan perhatian, memastikan kebutuhan mereka terpenuhi, dan ikut memikirkan masa depan mereka.

Dengan demikian, peran Haji Robert di Yayasan Al Qohhar berkembang dari sekadar memberikan bantuan menjadi figur ayah bagi anak-anak yang berada dalam pengasuhan yayasan.

“Pak Haji ingin anak-anak ini mendapatkan apa yang memang mereka butuhkan. Jadi bukan sekadar datang memberikan santunan lalu selesai. Kalau ada yang sekolah, kita pikirkan sekolahnya. Kalau ada yang sakit, kita pikirkan pengobatannya. Kebutuhan sehari-hari juga diperhatikan,” kata Kartono.

Menurut Kartono, kedekatan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Yayasan Al Qohhar.

“Anak-anak juga sudah menganggap Pak Haji sebagai orang tua. Jadi hubungan yang terbentuk selama bertahun-tahun ini bukan hanya hubungan antara yayasan dan penerima bantuan, tetapi sudah seperti keluarga,” ujarnya.

Bukan Hanya Tentang Memberi, Tetapi Menemani

Perjalanan Yayasan Al Qohhar selama 23 tahun menunjukkan bagaimana sebuah amanat yang awalnya sederhana dapat berkembang menjadi sebuah perjalanan panjang.

Dari sebuah majelis ta’lim, kemudian menjadi yayasan pada 2003, Al Qohhar terus menjalankan program untuk anak yatim dan yatim piatu, mulai dari santunan rutin, pendidikan, fasilitas pesantren, hingga bantuan dan pendampingan medis.

Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada para lansia atau jompo melalui program pemberian sembako secara rutin. Namun anak yatim dan yatim piatu tetap menjadi salah satu fokus utama perjalanan Yayasan Al Qohhar.

Selama 23 tahun, Haji Robert berusaha memastikan bahwa anak-anak tersebut tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga memiliki seseorang yang hadir ketika mereka membutuhkan. Karena bagi mereka, kehilangan orang tua bukan berarti harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perhatian, dan kehidupan yang layak. Dan bagi Haji Robert, meneruskan amanat gurunya berarti memastikan bahwa kebutuhan itu tetap ada yang memperhatikan.

Tentang Yayasan Al Qohhar:

Dalam perjalanan 23 tahun Yayasan Al Qohhar, terus berupaya menjadi tempat yang memberikan rasa aman, perhatian, dan kasih sayang bagi anak-anak yatim dan yatim piatu. Berbagai kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan dijalankan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan mereka sekaligus mendukung tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak. Dengan semangat meneruskan amanat yang telah diwariskan sejak awal berdirinya, Yayasan Al Qohar tidak hanya ingin hadir melalui bantuan, tetapi juga mendampingi anak-anak dalam menjalani kehidupan dan mempersiapkan mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. (mak)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *