Pengalaman menelaah akses ruang kota menjadi salah satu bekal Muhammad Luthfi dalam pencalonan
anggota Komisi Nasional Disabilitas periode 2026–2031. Pekerja sosial asal Makassar ini membawa perhatian
pada hubungan antara kebutuhan penyandang disabilitas, perencanaan daerah, dan kemampuan instansi menjalankan kebijakan.
Luthfi adalah penyandang disabilitas netra. Dalam profil pencalonannya, ia tercatat terlibat dalam audit aksesibilitas trotoar dan menjadi bagian dari tim penyusun Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas Kota Makassar. Keterlibatan itu mencakup perhatian pada pendataan, perencanaan, dan akses ruang kota.
Trotoar dan fasilitas umum memberi cara konkret untuk membahas inklusi. Pertanyaannya berhubungan langsung dengan kehidupan warga: siapa yang dapat menggunakan ruang tersebut, hambatan apa yang ditemukan, dan bagaimana pengalaman pengguna masuk ke dalam perencanaan berikutnya. Penilaian aksesibilitas membutuhkan keterlibatan orang yang menghadapi hambatan itu sendiri.
Dalam percakapan 19 Oktober 2026, Luthfi menghubungkan pengalaman tersebut dengan persoalan pelaksanaan kebijakan. Ia mengatakan bahwa “secara regulasi, kita sudah cukup oke”. Pernyataan itu menunjukkan penilaiannya bahwa perhatian berikutnya perlu diarahkan pada bagaimana aturan dipahami dan dijalankan.

Perhatian Luthfi juga mencakup lingkungan dan kepemimpinan pemuda. Materi profilnya mencatat keterlibatan dalam kegiatan penanaman mangrove yang mengikutsertakan penyandang disabilitas di Makassar. Ia menjalankan Green Leadership Training untuk advokasi berbasis data dan audit sosial.
Kegiatan lingkungan membuka pembahasan tentang peran penyandang disabilitas dalam urusan kota yang lebih luas. Mereka dapat ikut menelaah fasilitas, menyampaikan pengetahuan berdasarkan pengalaman, dan berkontribusi dalam kegiatan masyarakat. Untuk itu, akses terhadap kegiatan dan kesempatan mengambil peran perlu disiapkan sejak perencanaan.
Pada bidang pengorganisasian, Luthfi terlibat dalam pembentukan forum mahasiswa disabilitas di Jawa Barat serta mendorong gerakan mahasiswa dan pelajar penyandang disabilitas di Makassar. Pengalaman itu berkaitan dengan perhatian yang kini dibawanya pada kemampuan organisasi untuk menyampaikan kebutuhan kepada pemerintah.
Luthfi merupakan alumnus STKS tahun 2013 dan menempuh Master of Social Work di Australia melalui Australia Awards Scholarships. Selain bekerja sebagai pekerja sosial, coach, dan konsultan bidang inklusi, ia memimpin Asosiasi Pekerja Sosial dengan Disabilitas Indonesia, lembaga otonom di dalam IPSPI.
Dalam gagasannya untuk KND, kemampuan ASN, terutama perencana dan pelaksana kebijakan, perlu masuk dalam perhatian pemantauan. Temuannya digunakan untuk menyusun rekomendasi penguatan kapasitas. Organisasi penyandang disabilitas juga perlu diperkuat agar dapat menelaah rencana dan memantau pelaksanaannya.
Pengalaman Makassar memberi konteks bagi gagasan tersebut. Persoalan akses ruang kota mempertemukan urusan perencanaan, informasi, pelayanan, serta partisipasi masyarakat. Menelusuri hubungan antar bagiannya dapat membantu pemerintah dan warga menemukan titik perbaikan yang lebih jelas.

Materi pencalonan Luthfi mengajak publik memberikan penilaian jujur dan konstruktif terhadap rekam jejaknya. Bagi warga atau organisasi yang pernah bekerja bersamanya, masukan dapat memuat pengalaman konkret, peran yang dijalankan, dan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Pengalaman lokal dengan demikian dapat ikut menjadi bahan penilaian atas kesiapannya menjalankan peran pada tingkat nasional. (mak)














