TAIWAN – Meliput perhelatan Taiwan Lantern Festival 2026 bukan hanya menghadirkan pengalaman jurnalistik, tetapi juga membuka kesempatan mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan pesona alam Taiwan. Hal itulah yang dirasakan enam jurnalis Indonesia yang mendapat fasilitasi dari Taipei Economic and Trade Office (TETO) Indonesia dalam perjalanan liputan pada 1–6 Maret 2026.
Salah satunya adalah Makali Kumar, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi media cetak Kreator Jabar dan media daring kreatorjabar.com. Bagi jurnalis asal Indramayu, Jawa Barat tersebut, kesempatan meliput langsung festival lampion terbesar di Taiwan itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Festival lampion tahunan tersebut digelar di Kabupaten Chiayi pada 3–15 Maret 2026. Selain melakukan peliputan, para jurnalis juga diajak menjelajahi sejumlah destinasi wisata unggulan di negeri yang dikenal dengan julukan Formosa—sebutan lama yang berarti “pulau yang indah”.
Makali Kumar bersama lima jurnalis lainnya—Agustina Melani (Liputan6.com), Fransisca Nababan (Kompas), Fadhil Zikri (Indonesiaupdate), Paulina Pasaribu (Sudutpandang.id), dan Arkhelaus Wisnu Triyogo (Tempo)—mendapat kesempatan melihat wajah Taiwan yang memadukan kemajuan modern dengan kekayaan alam dan sejarah.

Dalam catatan perjalanannya yang disampaikan Selasa (10/3/2026), Makali menuturkan bahwa perjalanan liputan tersebut tidak hanya berfokus pada festival lampion, tetapi juga mengenalkan berbagai sisi Taiwan kepada para jurnalis.
“Selain meliput Taiwan Lantern Festival, kami juga diajak melihat budaya lokal, wisata edukasi modern, hingga keindahan alam pegunungan yang menenangkan,” ujarnya.
Selama perjalanan, rombongan jurnalis didampingi pemandu wisata profesional, Mr. Acin, yang memperkenalkan berbagai kota dan destinasi populer yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

Menyusuri Wisata Budaya dan Alam Taiwan
Pada hari keempat perjalanan, Rabu (4/3/2026), para jurnalis memulai aktivitas sejak pagi dengan sarapan di hotel sebelum mengikuti Tea Ceremony, sebuah tradisi minum teh yang menjadi bagian penting dari budaya Taiwan.
Taiwan dikenal sebagai salah satu produsen teh terbaik di dunia, terutama teh oolong dari pegunungan Alishan. Upacara minum teh ini tidak sekadar menikmati minuman, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi dan filosofi hidup masyarakat setempat.
Setelah itu, rombongan mengunjungi Home 23 Coffee, sebuah tempat yang memperkenalkan budaya kopi lokal Taiwan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Eryanping Trail, jalur wisata alam yang terkenal dengan panorama pegunungan dan hamparan kabut tipis khas kawasan Alishan.

Di jalur ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan lembah dan hutan yang menjadi salah satu daya tarik utama wisata alam Taiwan.
Jejak Sejarah Jepang di Hinoki Village
Destinasi yang paling mencuri perhatian pada hari keempat adalah Hinoki Village di Kota Chiayi. Kawasan ini merupakan kompleks bangunan kayu bergaya Jepang yang dibangun pada awal abad ke-20 saat Taiwan berada di bawah pemerintahan kolonial Jepang (1895–1945).

Dahulu, area ini berfungsi sebagai asrama bagi pejabat pemerintah Jepang serta pekerja yang terlibat dalam industri kehutanan, khususnya pengolahan kayu hinoki dari kawasan Alishan.
Kayu hinoki sendiri merupakan jenis cemara Jepang yang terkenal kuat, tahan lama, serta memiliki aroma khas. Karena kualitasnya yang tinggi, kayu ini banyak digunakan dalam pembangunan rumah tradisional Jepang.

Setelah Jepang meninggalkan Taiwan pada akhir Perang Dunia II, kawasan tersebut sempat terbengkalai sebelum akhirnya direstorasi oleh pemerintah setempat dan dijadikan taman budaya serta destinasi wisata. Kini, bangunan-bangunan kayu tersebut difungsikan sebagai toko suvenir, galeri seni, serta tempat penjualan produk khas pegunungan Alishan, mulai dari teh, kerajinan tangan, hingga makanan lokal.

Menurut Makali Kumar, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi turis, terutama wisatawan asal Jepang yang ingin melihat jejak sejarah leluhur mereka di Taiwan.
“Bangunannya masih terawat dengan baik dan mempertahankan arsitektur asli Jepang. Banyak wisatawan Jepang datang untuk melihat langsung sejarah masa lalu mereka di Taiwan,” ungkapnya.
Hal menarik lainnya yang ditemui Makali di kawasan tersebut adalah keberadaan pohon mangga berukuran besar dengan buah yang relatif kecil. Sebagai orang Indramayu—daerah yang terkenal sebagai penghasil mangga unggulan di Indonesia—ia merasa terkejut melihat tanaman tersebut tumbuh di Taiwan.

“Saya sempat berpikir, ternyata di Taiwan juga ada pohon mangga. Kalau di Indonesia, terutama di Indramayu, mangga terkenal manis seperti gedong gincu,” katanya sambil tersenyum.
Mengenal Tokoh Sejarah Chiang Kai-shek di Memorial Hall
Pada hari kelima perjalanan, Kamis (5/3/2026), rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taipei yang ditempuh sekitar 3,5 jam dari Chiayi. Salah satu destinasi bersejarah yang dikunjungi adalah Chiang Kai-shek Memorial Hall, kompleks monumen nasional yang didedikasikan untuk mengenang Chiang Kai-shek, pemimpin Republik Tiongkok yang memimpin Taiwan setelah pemerintahannya berpindah dari daratan Tiongkok pada 1949.

Memorial hall yang dibangun pada tahun 1980 ini menjadi salah satu landmark paling terkenal di Taipei. Bangunan utamanya berdiri megah dengan arsitektur khas Tiongkok klasik, beratap biru dan dinding marmer putih, melambangkan nilai kebebasan dan integritas.
Di dalam bangunan tersebut terdapat patung perunggu raksasa Chiang Kai-shek serta museum yang memamerkan berbagai dokumen sejarah, foto, dan artefak yang berkaitan dengan perjalanan politik dan pembangunan Taiwan pada masa kepemimpinannya.

Bagi masyarakat Taiwan, Chiang Kai-shek dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah modern negara tersebut, terutama dalam pembangunan ekonomi dan sistem pemerintahan di pulau itu.
Ketika rombongan berkunjung, suasana kawasan memorial hall semakin indah karena banyak pohon sakura yang sedang bermekaran. Meskipun Taiwan telah memasuki awal musim semi pada bulan Maret, bunga-bunga sakura masih terlihat mekar dan menambah daya tarik wisata di area tersebut.

“Selain bangunannya yang sangat megah dan sarat sejarah, pemandangan bunga sakura di sekitarnya membuat tempat ini terasa sangat indah,” kata Makali.
Diplomasi Budaya Lewat Festival Lampion
Perjalanan liputan para jurnalis Indonesia ini menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Taiwan melalui sektor pariwisata dan media.

Dengan menghadirkan wartawan dari berbagai media Indonesia, pemerintah Taiwan berharap keindahan alam, kekayaan budaya, serta sejarahnya dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
Bagi Makali Kumar, perjalanan ini bukan sekadar tugas jurnalistik, tetapi juga pengalaman yang memperkaya wawasan tentang budaya dan sejarah sebuah negara.
“Taiwan bukan hanya tentang festival lampion yang spektakuler, tetapi juga tentang sejarah panjang, budaya yang kuat, dan alam yang sangat indah,” tuturnya.

Catatan perjalanan ini menjadi gambaran bagaimana sebuah perjalanan liputan dapat menghadirkan perspektif baru tentang sebuah negara—melalui jejak sejarah, tradisi budaya, hingga keramahan masyarakatnya. (*)














