banner 728x250

HARLAH MUI KE 51 TAHUN 2026, MENGHIDUPKAN SPIRIT BUYA HAMKA KETUA UMUM MUI PERTAMA

Oleh : Adlan Daie

Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu

Haji Abdulkarim Amrullah, biasa disapa Buya Hamka, bukan sekedar Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI), beliau satu dari sedikit tokoh ormas Islam peletak dasar dasar “kenapa harus ada MUI di Indonesia”.

Beliau Ulama, Penulis dan Sastrawan. Teguh dalam sikap, bertutur kata runtut khas berpantun rumpun Melayu. Refleksi Harlah MUI ke 51 tahun 2026 penting menghidupkan kembali spirit eksistensial MUI “legacy” Buya Hamka.

Dalam teks sambutannya dalam Harlah MUI ke – 2, tanggal 7 Agustus tahun 1977 yang diberi judul “Kenapa Majelis Ulama Mesti Ada” (dimuat dalam majalah “Kiblat”, no 8/XXII/1977, Buya Hamka menekankan :

“Berdirinya MUI bukan berarti pemerintah dengan sekehedaknya sendiri mempergunakan ahli ahli agama untuk kepentingan sendiri, sebab pemerintah seperti ini akan kehilangan kepercayaan umat” – demikian kata Hamka dalam sambutannya.

“Demikian juga ulama yang ikut berpartisipasi di MUI tapi menganggap kedudukannya megah, makin dekat dengan pemerintah tapi jauh dari rakyat, maka ulama seperti ini telah kehilangan urat” – jelas Hamka lebih lanjut.

Buya Hamka telah lama berpulang meninggalkan kita. Beliau hadir di jamannya., setiap pemimpin ada garis pembatas jamannya dan setiap jaman selalu melahirkan pemimpinnya. Itulah siklus historis “sunnatullah”.

Dalam spirit Al Quran sejarah masa lalu bukan tehtang apa yang disebut Robert N Bellah “lompatan lompatan” peristiwa masa silam yang dilipat waktu tetapi mengajarkan kita tentang nilai dan kearifan untuk menapak dan mendaki jalan masa depan (Q.S. Al Hasyr, 18).

Itulah refleksi kita dalam Harlah MUI ke 51 tahun 2026, yakni mengambil spirt dari keteguhan kepemimpinan Hamka di pucuk pimpinan MUI di masa nya untuk diadaptasi secara “muqtadlol hal”, secara kontekstual tanpa bergeser dari pijakan prinsip agama.

Hamka Ketua Umum MUI paling legendaris dalam sejarah perjalanan Khidmah MUI di Indonesia bukan hendak kita “kultuskan” secara personal tapi keteguhan hati memimpin MUI di tengah tekanan rejim politik di era nya harus menjadi titik pijak menavigasi kerja kerja MUI.

Hamka dan Ulama Ulama yang berkhidmat di MUI sungguh berat menjaga moral umat di eranya tapi khidmat kita hari ini dan hari hari mendatang di MUI tak kalah berat dan begitu kompleks, menuntut “nyali” menjaga kehormatan institusi keagamaan

Tantangan MUI dan institusi keagamaan di era demokrasi dan algoritma media sosial sebagai power epincentrum adalah eskalasi pergeseran otoritas keagamaan dan polarisasi yang mengubah cara umat mencari panduan moral.

Pengaruh otoritas keagamaan mulai diuji oleh pengaruh kekuatan politik. Otoritas tradisional lembaga keagamaan pelan pelan “dilucuti”, tidak lagi memonopoli bimbingan moral. Esensi spritualitas mulai kalah ditimbun oleh konten selebritas .

Tanpa keteguhan kepemimpinan MUI sebagai otoritas keagamaan mengahadapi tantangan “disrupsi” sosial di atas. Nilai nilai “ilahiyah” ketuhanan “penuntun” bagi perjuangan atas kemanusiaan yang adil dan beradab – bisa bergeser.

Otoritas institusi keagamaan akan kehilangan “nyali”, takut “dibully”, melayani hanya untuk puja puji, hanya aksesoris simbol simbol keagamaan dalam diksi Ibnu Athoillah disebut “mujamalah” – mempercantik basa basi.

Indonesia dalam konsensus final bernegara memang bukan “negara agama” (Islam) tapi jelas bukan negara “sekuler” dalam konsepsi negara barat melainkan negara Pancasila dengan dasar ketuhanan sebagai batas etis perjuangan atas kemanusiaan dan keadilan, tidak boleh kalah oleh demokrasi “tirani mayoritas” politik.

Karena itu, MUI dan ormas-ormas keagamaan yang dahulu lahir sebagai gerakan pembebasan sosial tidak boleh terjebak hanya sibuk merawat struktur, tetapi kehilangan keberanian.

MUI tidak boleh kehilangan daya kritisnya, tidak boleh berubah menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan, kerakusan, dan kerusakan moral.

MUI hadir dan dihadirkan di Indonesia dengan mayoritas mutlak berpenduduk Islam sebagaimana ditekankan Buya Hamka untuk “mendakwahi” pemerintah agar “pemerintah tidak kehilangan kepercayaan umat” di satu sisi dan di sisi lain “MUI tidak kehilangan urat”. Itulah pointnya.

Selamat Harlah MUI ke 51 tahun 2926, berkhidmat untuk umat, berkolaborasi untuk maslahat

Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *