Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.
Dr. Masduki Duriyat, penulis mengenalnya dengan baik, adalah praktisi pendidikan yang masuk dalam jajaran Dewan Pendidikan Indramayu. Ia bukan saja tepat di posisi tersebut, bahkan “Credensial”, yakni lebih dari sekedar layak duduk sebagai wakil ketua Dewan Pendidikan Indramayu.
Ia memiliki soft skill kemampuan menulis kedalaman spektrum tentang beragam regulasi di bidang pendidikan dan menuangkannya dalam beragam perspektif tulisan, bertumbuh dalam dinamika pendidikan di Indramayu. Inilah yang dimaksud “credensial” dari sosok Dr. Masduki Duriyat di atas.
Itu yang dulu dalam teori “futurulogi” – rancang bangun masa depan oleh Alvin Toffler disebut “think globally and art locally”, perpaduan khazanah dalam spektrum yang luas di bidang pendidikan tapi adaptif secara “lokal” dalam memahami problem kusut peta pendidikan di Indramayu.
Penulis tidak sedang memuji Dr. Masduki Duriyat kecuali yang hendak digarisbawahi sebagai praktisi pendidikan sekaligus konsisten menulis pikiran pikirannya dalam media publik, ia paham bahwa pendidikan bukan tentang urusan “praktis” melainkan kerja pikiran imajinatif, kritis dan progresif.
Pendidikan adalah ruang proses imajinatif, tidak selalu bisa diringkas dalam slide “power point” yang dangkal, impulsif, berlimpah infomasi tapi miskin kedalaman literasi. Surplus sumber konten media sosial tapi defisit kekayaan imajinasi. Ini salah satu problem dalam proses pendidikan kita hari ini.
Tuntutan pragmatisme “baru” para praktisi pendidikan memodernisasi diri secara methodologis dengan menggunakan “power point” di layar ruang pendidikan dalam batas tertentu dapat dibenarkan secara praktis tapi menjadikannya satu satunya andalan praktis justru dalam istilah Rocky Gerung kehilangan “power” dan “pointnya”.
Prof Fuad Hasan, Mendikbud berlatar belakang sastra dulu mengingatkan dunia pendidikan bukan “dunia mekanik” tapi ruang imajinasi anak anak didik. Karena itu, betapa pun ia menjadi Mendikbud di era otoritarian militeristik ia kukuh bahwa pendidikan adalah rumpun “ilmu humaniora” tidak bersifat “link and match” secara skill teknologis.
Ilustrasi paradigmatik tentang pendidikan di atas untuk menjelaskan bahwa masuknya Dr. Masduki Duriyat dalam “Box” Dewan Pendidikan Indramayu, penulis meletakkannya sebagai pilihan meritokratis bagi pembenahan dunia pendidikan di Indramayu, setidaknya ia bisa memberi warna dalam peta jalan “blueprint” pendidikan di Indramayu.
Di sini kombinasi pengalaman praktis Dr. Masduki Duriyat di dunia pendidikan dan kemampuan menuangkan paradoks paradioks pendidikan di Indramayu dalam tulisan yang mulai berani membebaskan diri dari bahasa birokratis dan kaku dalam perspektif penulis penting diletakkan ikhtiar mencerahkan ekosistem pendidikan di Indramayu.
Banyak tulisan Dr. Masduki Duriyat tentang pendidikan yang penulis ikuti di media “online”, mulai dari ironi keberpihakan anggaran negara terhadap pendidikan, regulasi sektor pendidikan yang tidak koheren satu sama lain dan terbaru ketika Presiden “salah ucap” menaikkan gaji guru hingga 3 kali lipat di forum kenegaraan resmi hanya bertahan “sepersekian detik” – menjadi untuk “para hakim”.
Dua tulisannya yang relevan dalam konteks tulisan singkat ini adalah tulisannya berjudul “Kutukan Sumber Daya Di Indramayu : Kaya Alam, Miskin Pendidikan” (koran “intijaya”, 9/3/2026) dan tulisan berjudul “Kepala Sekolah Tanpa Peminat, Alarm Kegagalan Kegagalan Tata Kelola Pendidikan Daerah” (“jayanews”, 18/3/2026) adalah hentakan tentang kegelisahan masa depan Indramayu.
Dalam perspektif itu kita sedikit berharap kehadiran Dr. Masduki Duriyat di “Box” Dewan Pendidikan Indramayu bisa menjaga konsistensi bahwa pendidikan bukan “dunia’ mekanik” yang bisa diutak atik dalam rekayasa indeks angka angka keberhasilan impulsif tapi harus menjadi jangkar penjaga “kemuliaan” pendidikan.
‘Ala kulli hal, di atas segalanya, paradigma pendidikan dalam institusi sekolah tidak boleh bergeser dari tiga fungsi dasar pendidikan, yaitu fungsi “enlightenment” (mencerahkan), fungsi “enrichment” (memperkaya wawasan) dan “empowering” (memberdayakan) pendidik didik. Di titik inilah Dr. Masduki Duriyat berdiri memanggul amanat.
Rejim politik di level mana pun dan siapa pun hanya berusia pendek sementara kerja.kerja kemuliaan pendidikan sangat panjang, tidak boleh direduksi nilai kemuliaannya oleh opurtunisme politik untuk mencegah dini tidak mewariskan legacy “penyakit budaya” buruk bagi bertumbuhnya generasi masa depan.
Wassalam.














