TAIWAN – Pengalaman meliput Taiwan Lantern Festival 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi enam jurnalis Indonesia yang mendapat kesempatan istimewa dari Taipei Economic and Trade Office (TETO) Indonesia. Tak hanya menjalankan tugas jurnalistik, mereka juga diajak menelusuri kekayaan budaya, alam, dan destinasi wisata unggulan di negeri Formosa.
Salah satu jurnalis, Makali Kumar, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas kesempatan tersebut. Ia bersama lima jurnalis lainnya mengaku masih merasakan euforia perjalanan meski telah kembali ke Indonesia.

“Bahkan ada rekan yang masih merasa seolah berada di Taiwan, padahal sudah lebih dari sepekan kembali ke tanah air. Kami sangat berterima kasih kepada TETO yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk meliput langsung festival budaya terbesar di Taiwan,” ujar Makali.
Enam jurnalis yang mengikuti program ini adalah Makali Kumar SH (Kreator Jabar), Agustina Melani (Liputan6.com), Fransisca Nababan (Kompas), Fadhil Zikri (Indonesiaupdate), Paulina Pasaribu (Sudutpandang.id), dan Arkhelaus Wisnu Triyogo (Tempo).

Peran TETO dalam Mendukung Liputan
Makali yang juga menjabat Direktur Media Kreator Jabar Group dan Sekretaris Jenderal SMSI menuturkan, dukungan penuh diberikan oleh jajaran TETO Indonesia. Ia menyebut nama Mina Cheng (Direktur Bagian Pers dan Informasi), Morgan Yang (Sekretaris Utama), serta Mepi Lin (Staf Pers dan Informasi) yang aktif mendampingi sejak tahap persiapan hingga kepulangan.
“Mulai dari pertemuan di Jakarta, pendampingan di Bandara Soekarno-Hatta, hingga monitoring selama di Taiwan, semuanya berjalan sangat baik dan profesional,” katanya.

Ia berharap program fasilitasi jurnalis ini dapat terus berlanjut di masa mendatang sebagai jembatan informasi dan kerja sama antara Indonesia dan Taiwan.

Laporan Perjalanan: Menyatu dengan Festival dan Pesona Taiwan

Taiwan Lantern Festival
Liputan utama berlangsung pada 1–6 Maret 2026. Festival lampion ini dikenal sebagai salah satu perayaan budaya terbesar di Taiwan, menampilkan instalasi lampion raksasa, pertunjukan seni, serta inovasi teknologi cahaya yang memukau.
Para jurnalis berkesempatan menyaksikan langsung area gladi bersih di Chiayi hingga perhelatan utama di Taipei yang dipadati wisatawan domestik dan mancanegara.

Taichung hingga Chiayi: Awal Perjalanan
Perjalanan dimulai dari kedatangan di Bandara Internasional Taoyuan. Keesokan harinya, rombongan bertolak ke Taichung untuk mengunjungi akuarium modern, sebelum melanjutkan perjalanan ke Chiayi—lokasi utama festival.
Di Chiayi, para jurnalis melihat langsung persiapan festival, termasuk instalasi lampion dan latihan pertunjukan.

Alishan: Keindahan Alam dan Budaya Suku Lokal
Hari ketiga menjadi salah satu momen paling berkesan dengan kunjungan ke kawasan pegunungan Alishan. Rombongan menaiki kereta api klasik Alishan yang ikonik, menyusuri hutan berkabut dengan panorama alam yang menenangkan.

Selain itu, mereka menyaksikan pertunjukan budaya suku Tsou di Yuyupas, yang menampilkan tarian tradisional penuh makna.
Pengalaman menginap di Longyun Farm semakin memperkaya interaksi dengan alam dan budaya lokal.

Tradisi, Teh, Kopi, dan Pasar Malam
Perjalanan dilanjutkan dengan pengalaman tea ceremony khas Taiwan, kunjungan ke perkebunan kopi, hingga menjelajahi Hinoki Village yang sarat sejarah Jepang.
Malam harinya, rombongan menikmati suasana Wenhua Street Night Market yang terkenal dengan ragam kuliner khas Taiwan.

Taipei: Puncak Perjalanan
Di hari terakhir, rombongan menuju Taipei. Mereka mengunjungi Chiang Kai-shek Memorial Hall, salah satu ikon sejarah Taiwan, sebelum menghadiri puncak Taiwan Lantern Festival di ibu kota.

Perjalanan ditutup dengan eksplorasi kawasan Ximending yang dikenal sebagai pusat gaya hidup dan hiburan anak muda.
Perjalanan Nyaman dan Profesional
Seluruh perjalanan didukung oleh maskapai Eva Air dengan rute Jakarta–Taipei pulang-pergi.
Selama di Taiwan, rombongan didampingi pemandu lokal, Steven Wu / Ko Acin, yang membantu memastikan seluruh agenda berjalan lancar.

Harapan kedepan
Makali Kumar menegaskan bahwa program ini bukan sekadar perjalanan liputan, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya dan pertukaran informasi.
“Semoga program seperti ini terus berlanjut, sehingga semakin banyak jurnalis Indonesia yang dapat mengenal Taiwan lebih dekat dan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat,” tutupnya.
(red)














