banner 728x250

Wujud Nyata Hilirisasi Migas, Kilang Balongan Integrasikan Produksi BBM dan Bahan Baku Plastik

BALONGAN – Kilang Pertamina Balongan membuktikan peran strategisnya bukan hanya sebagai penyokong energi nasional, tetapi juga sebagai motor hilirisasi industri migas. Melalui integrasi teknologi canggih, kilang ini mampu mengolah residu minyak menjadi produk petrokimia bernilai tinggi yang menjadi bahan baku industri plastik dalam negeri.

Keunggulan hilirisasi di Balongan bertumpu pada sinergi dua unit penting, RCC (Residue Catalytic Cracking) dan POC (Propylene Olefin Complex). Unit RCC bertugas mengolah residu minyak berat menjadi produk antara, yang kemudian diproses lebih lanjut di Unit POC untuk menghasilkan Propylene kemudian disalurkan secara efisien melalui jaringan pipa ke PT Polytama Propindo untuk diolah menjadi biji plastik (Polypropylene) guna memenuhi kebutuhan industri medis hingga kemasan pangan.

Adapun fakta tersebut disampaikan oleh General Manager Kilang Pertamina Balongan pada pembukaan sambutannya dalam kegiatan kunjungan kerja dan monitoring Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), di Kilang Pertamina Balongan pada Minggu (25/1).

General Manager Kilang Pertamina Balongan, Yulianto Triwibowo, menjelaskan bahwa operasional unit POC adalah kunci keberhasilan peningkatan nilai tambah di kilang ini. Lebih dari itu secara keseluruhan kilang tengah beroperasi dengan lancar dengan kapasitas optimal 150.000 barel per hari dan siap menjaga ketersediaan energi nasional.

“Meski cuaca ekstrem disertai angin yang menantang, operasional unit-unit kunci ini kami pastikan tetap berjalan andal,” ujar Yulianto.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menilai keberadaan Kilang Balongan memperkuat argumen pemerintah mengenai pentingnya kemandirian energi dan industri serta merupakan wujud nyata dari upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi.

Selain mengapresiasi peran Kilang Balongan dalam pemenuhan industri Petrokimia nasional, Fathul juga mengungkapkan bahwa Pemerintah menargetkan pada semester kedua tahun 2026, Indonesia sudah bisa berhenti mengimpor solar.

“Apa yang kita lihat di Balongan hari ini memberikan optimisme besar. Dengan hilirisasi yang matang, kita tidak hanya swasembada BBM, tapi juga memperkuat struktur industri nasional kita,” tegas Fathul.

Senada dengan hal tersebut, Tenaga Ahli Menteri ESDM bidang Pengawasan dan Monitoring Pembangunan Infrastruktur Migas, Anggawira, menekankan bahwa praktik hilirisasi ini merupakan pengejawantahan visi Presiden Prabowo dalam menjaga kemandirian bangsa.

“Pertamina adalah wajah Indonesia. Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, ketahanan energi dan hilirisasi adalah hal yang utama. Kilang Balongan membuktikan bahwa anak bangsa mampu menguasai teknologi pengolahan yang kompleks dari hulu hingga ke hilir,” kata Anggawira.

Tantangan teknis dalam pengolahan minyak mentah pun tidak menjadi penghalang. Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina Internasional, Erwin Suryadi, memaparkan bagaimana fleksibilitas kilang ini menjadi keunggulan kompetitif.

Selepas diskusi, rangkain kunjungan kemudian dilanjutkan dengan _site visit_ kilang untuk menggali lebih dalam lagi unit-unit yang ada di Kilang Balongan.

Pjs. Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Balongan, Rizky Anggia Putri, dalam pernyataannya menyampaikan dukungan penuh terhadap fungsi pengawasan BPH Migas ini

“Sinergi antara regulator dan operator ini memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman dan distribusi tetap terjaga di segala situasi,” tutup Rizky. (Abdul Gani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *