banner 728x250

Dari Desa untuk Dunia : MMLWF Indonesia Luncurkan “Happiness Golden Hope Account” bagi Perempuan Berkebutuhan Khusus

JAKARTA — Berawal dari keprihatinan terhadap kehidupan keluarga di desa-desa, Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) menghadirkan sebuah gerakan kemanusiaan baru yang kini mulai menjangkau dunia.

Melalui program terbarunya, “Happiness Golden Hope Account (HGHA)”, MMLWF memberikan harapan nyata bagi perempuan berkebutuhan khusus yang menjadi tulang punggung keluarga.

Program ini hadir setelah suksesnya penyelenggaraan 100 CTFP Card of Honor 2026, sebuah momentum penting dalam gerakan kemanusiaan global. Dalam acara tersebut, Presiden Asian Paralympic Committee, Majid Rashed, menyampaikan pesan khusus 100 Celebrities Talk for Paralympic (100 CTFP) yang membuka kesadaran 45 negara Asia akan pentingnya perdamaian dunia melalui gerakan ini.

Jadrianna Aletta Sutrisno, Lead Youth Leader 100 CTFP Indonesia 2026. //foto : ist//

Dukungan terhadap gerakan 100 CTFP  ini juga datang dari berbagai institusi dunia, termasuk International Paralympic Committee, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, ASEAN Para Sports Federation, National Paralympic Council Singapore, Komite Olahraga Indonesia, serta Perkumpulan Insan Maritim Andalan Indonesia (PIMA).

Program Charity ke-19*) MMLWF

Program ini menjadi program charity ke-19 MMLWF sekaligus program pertama dari 100 CTFP Indonesia. Fokus utamanya adalah membantu perempuan berkebutuhan khusus kurang mampu yang harus menjadi penopang utama keluarga mereka.

Berangkat dari realitas di lapangan, banyak anak berkebutuhan khusus harus menghadapi kehidupan yang sangat berat setelah kehilangan sosok ibu—yang juga berkebutuhan khusus—dan selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

“Kami menanyakan kebutuhan paling mendesak dari keluarga berkebutuhan khusus, lalu menghadirkannya secara langsung. Kami juga mengajak para ibu untuk membuka tabungan emas sebagai bentuk harapan jangka panjang,” ujar Natalia Tjahja, pendiri MMLWF dan 100 CTFP.

Dari Bali hingga Dunia

Program ini pertama kali dilaksanakan di Bali, dengan empat perempuan berkebutuhan khusus sebagai penerima manfaat perdana. Seiring waktu, program ini berkembang ke berbagai daerah seperti Parung, Pekalongan, Langsa, Banda Aceh, Sleman, dan wilayah lainnya.

Salah satu penerima manfaat, Rosma—seorang pemulung di Banda Aceh—mengungkapkan rasa syukurnya,

“Ini adalah kebahagiaan dari Tuhan. Saya sangat bersyukur bisa terpilih dalam program ini.”

Tak hanya di dalam negeri, program ini kini telah menjangkau tingkat internasional, termasuk Kroasia, Italia, dan Kazakstan.

Peran Kunci Generasi Muda

Perjalanan program ini tidak lepas dari peran generasi muda. Jadrianna Aletta Sutrisno menjadi Lead Youth Leader 100 CTFP Indonesia sekaligus sosok pertama yang memberikan dukungan bagi program ini.

Ia merupakan putri dari Jenny O—penerima penghargaan Women of Influence 100 CTFP Indonesia—dan Sarjono Sutrisno, pemilik Stro World. Dukungan awal dari Jadrianna menjadi fondasi penting dalam menggerakkan keterlibatan generasi muda.

Langkah tersebut kemudian diikuti oleh para Youth Leader 100 CTFP dari berbagai kota dan negara, yaitu Ricardo Ryo (Jakarta), Maira Shasmeen (Jakarta), Nathan K. Christanto (Jakarta), Warren G. Sebastian (Taiwan), Darlene Zhang (Melbourne), Kaylee Allison Yap (Medan), dan Laetitia Purawinata (USA).

Kisah Kecil, Dampak Besar

Salah satu kisah menyentuh datang dari Enza, warga Italia-Kroasia, bersama putrinya, Allesandra (11).

Dengan penuh kasih, Allesandra turut berbagi untuk membantu Ruk dan Sita—membuktikan bahwa kepedulian dapat tumbuh sejak usia dini.

Enza menyampaikan sebuah refleksi mendalam tentang makna kebahagiaan,

“Kebahagiaan sejati dimulai ketika tubuh dirawat dan jiwa dikuatkan—karena tanpa kesehatan, bahkan momen paling indah pun kehilangan maknanya.”

Melalui program ini, seorang lansia berkebutuhan khusus, Ruk, kini mendapatkan akses obat-obatan, asupan gizi selama satu tahun penuh, serta tabungan emas bagi keluarganya. Hal serupa juga dirasakan oleh Sita, yang kini memiliki harapan baru untuk melanjutkan pengobatan.

Gerakan Anak untuk Dunia

Inspirasi dari Allesandra( 11)  turut menggerakkan anak-anak lainnya untuk terlibat, di antaranya Aiden Setiawanto (11) di Singapura dan Jasmine Dzakyra Kurniawan (7) di Jakarta.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak mengenal usia—anak-anak pun dapat menjadi bagian dari perubahan besar.

Gerakan Sunyi, Dampak Mendunia

Dukungan terhadap program ini terus mengalir dari berbagai tokoh, termasuk Rita Pusponegoro, Jenny O, Karin Linggrid Koh, Dewi S. Hartati,Emmy Ranoewidjojo serta Mepi Lin.

Di tengah dunia yang penuh tantangan, program ini menjadi bukti bahwa harapan masih dapat tumbuh—dari desa, untuk dunia. (mak/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *