banner 728x250

GUS IPUL DAN PANGGUNG MUKTAMAR NU KE 35 AGUSTUS 2026

Oleh : H. Adlan Daie

Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.

H. Saefullah Yusuf, biasa disapa Gus Ipul adalah “faktor”, suka tidak suka, ia tak dapat diremehkan oleh faksi faksi manapun dalam proyeksi dan dinamika Muktamar NU ke 35 Agustus 2026 mendatang.

Gus Ipul menghandel dari “hulu” ke “hilir”, menjadi ketua panitia tiga agenda besar PBNU sekaligus dalam satu paket, yaitu Munas & Konbes (Musyawarah Nasional & Konferensi Besar) dan Muktamar NU.

Penunjukannya sebagai ketua panitia menghandel tiga agenda besar PBNU dalam satu paket di atas jelas bukan perkara “adhoc” dan teknis tapi “operator sistem” dalam pusaran dinamika suksesi kepemimpinan PBNU dalam Muktamar NU ke 35. .

Muktamar NU adalah “panggung bermain” Gus Ipul setidaknya dalam dua Muktamar NU terakhir ia menjadi variabel “faktor” sukses terpilihnya ketua umum PBNU, yaitu di Muktamar NU ke 33 di Jombang tahun 2015 dan di Muktamar NU ke 34 di Lampung tahun 2021 – tentu dengan segala pilihan aliansi politisnya.

Di Muktamar NU di Jombang Gus Ipul menjadi ketua panitia Muktamar NU sekaligus “inner circle”, bagian inti dari lingkaran dalam tim sukses terpilihnya KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU dan berlanjut di Muktamar NU di Lampung tahun 2021 sukses mengantarkan Gus Yahya menjadi ketua umum PBNU.

Dalam proyeksi Muktamar NU ke 35 Agustus 2026 mendatang tampaknya Gus Ipul berpisah “kongsi” dengan Gus Yahya dalam kandidasi ketua umum PBNU meskipun ia tidak berminat di posisi Ketua Umum PBNU tapi menarik membedahnya untuk membaca aliansi taktis Gus Ipul sebagai “faktor” dengan Rois ‘Am “incumbent”.

Aliansi “politis” Rois ‘Am PBNU “incumbent”, KH Miftahul Akhyar, pemimpin tertinggi dalam jam’iyah NU bersama Gus Ipul sebagai Sekjend PBNU, sekali lagi, adalah poros kekuatan, sebuah blok politik dalam pusaran dinamika Muktamar NU ke 35, sulit dinafikan oleh kekuatan poros dan faksi lain.

Sebagai Sekjend PBNU sekaligus ketua panitia Muktamar yang “dipayungi” Rois Am PBNU, ditopang posisinya sebagai Menteri Sosial – ia memiliki banyak pintu akses dan alasan taktis melakukan pemetaan dan konsolidasi ke simpul simpul pemilik suara (PWNU & PCNU) di berbagai daerah.

Karena pengalamannya di panggung Muktamar NU, arah dukungan dan orkestrasi “politis” Gus Ipul dalam proyeksi Muktamar NU ke 35 tidak eksplisit di ruang publik baik untuk Rois Am PBNU maupun Ketua Umum PBNU, masih samar samar, memilih “lentur”.

Di sinilah menariknya membaca Gus Ipul dalam proyeksi kandidasi Rois Am dan Ketua Umum PBNU. Ia tidak mempersempit ruang aliansi faksi “Ansor” atau faksi “PMII” atau faksi lain kecuali sebagai Menteri Sosial dalam kabinet Presiden Prabowo sudah pasti ia menunggu “sinyal’ dan “petunjuk” istana.

Gus Ipul teruji daya tahan dan “nafas panjang” politiknya sebagaimana testimoni Gus Yahya menulis, “Gus Ipul yang dikira telah “mati” selalu bisa bangkit kembali’, tulisnya di “Terong Gosong” (edisi, 18/10/2021).

Kini Gus Ipul di titik epicentrum, ia berdiri ibarat pemegang kunci “operator sistem” dalam proyeksi pusaran dinamika Muktamar NU ke 35 Agustus 2026. Kemana Muktamar NU kelak hendak diayun dan dimainkan di situ.ada Gus Ipul.

Ia menjadi salah satu variabel faktor tentang kemungkinan siapa kelak akan diamanahi kursi Rois Am PBNU dan siapa memenangkan kursi ketua umum PBNU.

Mari kita nikmati serial episode drama NU menuju panggung Muktamar NU ke 35, sebuah ruang rekonsiliasi antar elite PBNU dan ruang percakapan semua lapisan warga NU yang “tumplek” di arena Muktamar NU sambil sesekali menikmati kejutan drama drama NU yang tak terduga.

“Bukan NU yang kita kenal selama ini jika panggung besar Muktamar NU tidak menghadirkan “element off surprice”, kejutan drama drama tak terduga”, tulis Prof Burhanudin Muhtadi di kolom “Tempo” (Agustus 2015).

Wassalam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *