Oleh : Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu
Hasil riset dan survey “Alvara Research Centre”, sebuah lembaga survey yang rutin melakukan survey tentang NU pada Periode 2025 mempublish data jumlah warga NU sebesar 57% ekuivalen atau setara 140 juta jiwa dari total penduduk muslim di Indonesia.
Sayangnya, data hasil survey di atas berhenti dibaca di situ, bahkan cenderung “diglorifikasi” – untuk tidak menyebut “dikapitalisasi”, seolah olah jumlah warga NU yang sangat besar tersebut bisa “diatur” struktural NU dan dikendalikan preferensi pilihan politiknya.
Tulisan singkat ini sedikit hendak memberi “Bocor Alus” lebih detil tentang “turunan” 57% warga NU hasil survey “Alvara Research” di atas, terdiri dari tiga lapis anatomi warga NU dan indikator indikator ke NU an di bawah ini :
Pertama, warga NU yang disebut oleh “Alfara Research” dengan istilah “Cultural Nahdiyyin”, atau biasa disebut “NU kultural”, dalam temuan survey ini sebesar 29,2% setara 73 juta.
Inilah “lapisan pertama” dan terbesar dari apa yang disebut warga NU dalam survey ini. Indikator ke NU an kelompok ini jarang mengikuti kegiatan organisasi NU tetapi praktek keagamaannya dekat dengan tradisi NU.
Mereka hadir dalam acara tahlilan ketika ada tetangga meninggal, dalam yasinan malam Jum’at atau peringatan maulid Nabi di kampung kampung, ziarah kubur dan tradisi lain yang lekat dengan identitas sosial keagamaan NU.
Yang menarik dari temuan survey ini, lapisan warga NU dalam kelompok ini mayoritas lebih tertarik pada ceramah ceramah agama Ustad Abdus Shomad, Ust Adi Hidayat, Gus Baha dan Gus Iqram – mereka bukan tokoh NU struktural, bahkan Adi Hidayat tokoh Muhammadiyah.
Kedua, lapisan warga NU yang disebut dalam survey ini dengan istilah “Engaged Nahdiyyin”, yakni kelompok terlibat dalam aktivitas organisasi. Mereka mengikuti pengajian yang diinisiasi NU seperti Muslimat, Ansor, Fatayat dan kegiatan sosial serta pendidikan jaringan NU.
Warga NU dalam kelompok ini sebesar 18% setara kurang lebih 44 juta. Kelompok ini penting sebagai titik sambung organisasi. Mereka adalah penghubung antara basis kultural yang luas dengan struktural organisasi NU. Penceramah idola kelompok ini Gus Baha dan Gus Mus.
Ketiga, adalah lapisan warga NU yang disebut “Core Nahdiyin”. Proporsinya sebesar 9,4% setara 23 juta, paling kecil tetapi memiliki peran sangat penting. Jika NU ibarat pohon besar maka kelompok inilah akar tunjang dari NU.
Lapisan warga NU dalam kelompok ini adalah para penggerak utama NU, para kiai, para pengurus organisasi, aktivis pesantren, kader muda NU yang secara sadar menjaga ideologi “Aswaja” dan mengembangkan tradisi intelektual NU.
Secara generasional dalam survey “Alvara Research” di atas Gen Z (lahir antara tahun 1997 s d 2012) lebih dekat dengan corak lapisan warga NU “Cultural Nahdiyyin” dan generasi milenial (lahir antara tahun 1981 s d 1996) lebih condong ke lapisan warga NU “Engaged Nahdiyyin”,
Sedangkan generasi X (lahir antara tahun 1965 s d 1980) dan generasi “Booby Boomers” (lahir antara tahun 1946 s d 1964) banyak berada di lapisan warga NU yang disebut “Core Nahdiyyin” – akar inti penggerak NU.
Secara demografis dalam konteks sosial ekonomi lapisan warga NU kelompok “Cultural Nahdiyyin” mayoritas kelas bawah tersebar baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Yang di perkotaan dalam bahasa LSM disebut kelompok “miskin kota”.
Kelompok warga NU yang disebut “Engaged Nahdiyyin” dekat dengan kelompok kelas menengah kota, sedangkan warga NU dalam lapisan “Core Nahdiyyin” mayoritas kuat di wilayah “rural”, pusat pusat pesantren di pedesaan
Hal yang terlupakan dalam survey “Alvara Research” ini tapi penting ialah tidak mengukur varian dan indikator indikator tingkat toleransi ketiga lapisan kelompok warga NU di atas dalam konteks integrasi keislaman dan kebangsaan.
Ini penting terutama karena generasi Z yang berada dalam lapisan “Cultural Nahdiyyin” dalam sepuluh tahun terakhir bergairah dalam beragama, mengikuti tradisi keagamaan NU tapi cenderung “longgar” dalam ideologi keagamaan, potensial terpapar sikap “intoleransi”.
Dalam konteks politik pertanyaan menariknya adalah ke mana kecenderungan “preferensi politik” atau arah pilihan politik ketiga kelompok lapis warga NU di atas
Tentu yang dimaksud Warga NU di sini dalam pengertian sebagai “pemilih” berusia 17 ke atas, jumlahnya tidak sama, lebih sedikit, dibanding jumlah warga NU secara “populatif” sebagaimana digambarkan dalam survey di atas.
Temuan lembaga survey “Indikator politik” periode 2025 terhadap prilaku pemilih warga NU dalam pemilu 2024 memberikan “insight”, sebuah sudut pandang terkait pertanyaan di atas.
Pertama, bahwa NU sebagai basis sosial pemilih begitu besar tapi sebagai basis elektoral tidak bersifat monolitik melainkan fragmentatif dan tidak tunggal – cenderung “cair”.
Kedua, sebagai basis elektoral tergantung partai politik mengorganisir basis sosial pemilih NU menjadi basis elektoral secara taktis dan berlapis, tidak karena “endorsment” struktural NU.
Ketiga, dalam konteks PKB, satu satunya partai yang lahir dari rahim NU, pemilih NU meskipun “cair” tapi lebih mudah “connected” secara elektoral ke PKB terutama warga NU lapis “Engaged Nahdiyyin” dan “Core Nahdiyin” dalam kategori survey di atas.
Itulah “kekecualian” PKB dalam basis sosial pemilih NU meskipun tetap memerlukan intensitas pengorganisasian mereka dalam kegiatan PKB.
(Tentang relasi pemilih NU dan elektoral PKB dapat dibaca lebih detil dalam tulisan penulis berjudul “Peta Elektoral PKB dan Determinasi Pengaruh NU” di media “Kreatorjabar”, 15/5/2026).
Pertanyaan penutupnya, bagaimana Muktamar NU ke 35 Agustus 2026 mendesain program untuk memberi solusi terhadap problem problem yang dihadapi tiga kategori lapis warga NU di atas, apakah Muktamar NU sekedar panggung kontestasi politik?
Mari kita tunggu. Wassalam.














